Rabu, 18 September 2013

Rintik Hujan


                             
Pagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh tetsan air hujan suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku, kulangkahkan kaki ku untuk membuka jendela, ternyata masih hujan, kulihat rintik hujan tersebut aku jadi ingat akan kejadian 2 tahun lalu, nama ku vita irawan, aku orangnya ramah dan ceria, aku mempunyai banyak teman di sekolah tapi aku mempunyai teman dekat dia adalah nana, nana orangnya sama seperti aku tapi dia orangnya sangat tertutup dia tidak akan mau menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada siapapun termasuk aku kami sangat dekat. Mulai dari ke kantin bersama, berangkat sekolah bersama (kebetulan rumah kami juga berdekatan), dan mengerjakan tugas pun slalu kami kerjakan bersama, waktu pun terus berjalan, aku baru tersadar bahwa waktu berlalu dengan sangat cepat, hari ini hari pembagian raport, setelah raport dibagikan kemudian ada suara yang memberitahukan kepada nana, untuk segera datang ke ruang guru karena ada orang tuanya. Saat nana kembali masuk ke dalam kelas ku lihat matanya memerah, kemudian aku langsung bertanya,
“ada apa na?” tanyaku
“vit, aku akan pindah ke Jakarta, karena ayahku ditugaskan untuk bekerja di sana” jawab nana
saat mendengar kata-kata yang terucap dari nana aku merasa tubuhku membeku dan mataku mengeluarkan butiran air mata.
“kamu pasti bohongkan, na?” tanyaku lagi memastikan
“tidak vit, aku tidak bohong, maaf vit aku sudah di jemput oleh orang tua ku, kita kan masih bisa berkomunikasi lewat telepon seluler kan “ katanya sambil tersenyum seraya meninggalkan aku, kulihat tubuhnya semakin lam a semakin menjauh, yang tersisa hanya bayangannya saja, kini aku tidak dapat melihaatnya lagi.
6 bulan ssudah berlalu aku selalu berkomunikasi dengan nana, sampai kemudian, saat aku mengirim pesan,dia tidak membaalasnya, aku curiga,mungkinkah nana? Kutepis anganku tersebut, sebentar lagi akan dilaksanakan ulangan akhir semester, jadi untuk sementara aku focus pada ulangan ku, 1 minggu telah berlalu, kerinduanku tak terbendung lagi pada nana,akhirnya keluarga kami memutuskan untuk berlibur di Jakarta sekalian bertemu dengan keluarga nana, saat berada di dalam mobil aku membuka playlist lagu ku, aku memutar lagu sahabat yang dinyanyikan oleh audi, detik demi detik berlalu,menit demi menit berlalu, dan jam demi jam pun berlalu, “ya tuhan aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan nana” batinku kesal, hujan mewarnai perjalanan kami, saat sampai di rumah nana aku langsung keluar tanpa memperdulikan hujan yang turun ke tubuhku, saat aku sampai di rumah nana, kulihat ada seseorang yang telah dibalut oleh kain kafan, kuperhatikan dari bawah sampai atas, sepertinya aku mengenal mayat ini, dia adalah teman kecilku nana. Aku diam seribu bahasa, aku rasa dunia ini akan hancur dan sirna, perlahan mataku menjadi kabur dan menjadi hitam.
saat aku membuka mataku, terasa berat sekali untuk membukanya.
tante mita sekarang telah berada di sampingku, dia bertanya kepadaku
“apa kamu baik-baik saja vit” ? tanyanya khawatir
“aku tidak apa-apa tante, nana sakit apa tante? “ tanyaku
“dia mengidap penyakit yang mempunyai banyak darah putih ketimbang darah merah(Leukimia) “ jawab tante mita”
“vita,apa kamu mau ikut mengubur nana”
“iya tante”
Saat aku hendak beranjak keluar dari kamar nana aku melihat foto kami saat masih kanak-kanak, tadi hujan yang menemani perginya nana dari dunia ini, sekarang awan mendung yang menemani pemakaman nana, saat melihat nana di makamkan, aku merasa angin berhembus cukup kencang sehingga membuat pemakaman nana menjadi lebih dingin, pemakaman nana telah selesai,keesokan harinya kami akan pulang ke rumah, lalu tante mita memberikan aku sebuah surat, “ini dari nana,nana membuatnya saat ia di rumah sakit” kata tante mita
“iya,terimakasih tante” kataku sambil tersenyum
“saat di mobil aku hanya bisa memandang surat itu, aku belum ingin membaca surat dari nana, setelah sampai di rumah aku membuka, surat daari nana , surat itu berisi


“Vita kita udah sama-sama selama 10 tahun, aku rasa waktu sangat cepat berlalu, aku tau benar bagaimana sifatmu, aku mohon kamu jangan bersifat egois, bahagiakan orang tuamu dan "Hiduplah seolah-olah setiap hari adalah hari terakhirmu. Maka kamu akan menghargai setiap waktu yang tersisa dalam hidup" , vit setiap manusia yang hidup pasti bakal kembali ke tuhannya, dan sepertinya aku akan kembali ke tuhan yang telah menciptakan aku, aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, aku sudah lelah vit, selama aku menjadi sahabatmu maafkan aku jika aku banyak salah, sepertinya aku akan merindukan kenangan-kenangan kita dulu, merindukan tawa serta candamu vit, tapi sepertinya tuhan sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan ku, aku mohon jadilah vita yang selalu ceria dan ramah kepada semua orang, jangan lupakan aku vit walaupun aku sudah tidak ada lagi di dunia yang indah ini, aku akan bahagia bersama tuhan di sini.



Sahabatmu,nana

surat ini adalah surat terakhir dari nana,
Petir yang seketika menyambar didahului kilat bagai kamera itu membangunkan lamunanku yang bisa terhitung lebih dari dua puluh menit, rintik hujan turun membasahi bumi dengan perlahan-lahan.Seperti awan, ada hal-hal tertentu yang akan hilang dengan berlalunya waktu, aku kehilangan sahabat kecilku nana. aku sadar waktu telah berjalan sangat cepat, sekarang tepat dua tahun nana meninggalkan ku, saat rintik hujan waktu itu, sekarang aku akan terus mengejar cita-cita ku dan selalu menjalani hidup dengan senyuman karena aku yakin nana, akan bahagia melihatku tersenyum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar